Kepepet: Pengalaman Kuliah Di Universitas Terbuka
Seumur hidup saya, tak pernah terpikir bakalan kuliah. Bagi saya, asal tamat SMK dan bisa kerja, itu saja sudah cukup. Sumber informasi gratis terkait pekerjaan, uang, dan ilmu pengetahuan juga sudah banyak di internet, medsos, dan YouTube—bahkan saking banyaknya, hingga ada influencer terkenal pada waktu itu yang memberikan narasi bahwa kuliah itu sampah dan tidak guna.
Berbeda dengan orang lain yang mungkin ingin kuliah dengan tujuan menambah ilmu, meningkatkan karier, dan ingin membanggakan orang tua, saya tidak seperti itu.
Pada waktu itu, saya hanya ingin lepas dari sebuah organisasi, dan saya butuh alasan yang kuat. Jadinya, saya jadikan alasan pekerjaan saya dan saya ingin melanjutkan kuliah sebagai alasan untuk keluar dari organisasi itu agar diterima.
Awalnya saya pesimis, apalagi ini kuliah *online*—tidak ada jadwal kuliah untuk masuk jam berapa, bangku belajarnya di mana, bahkan tidak adanya guru yang bisa kita temui. Semua pembelajaran itu dilakukan secara mandiri, alias baca modul yang tebalnya tiga kali lipat dibanding buku sekolah waktu saya di SMK dulu.
Tapi justru ketika dipaksa belajar mandiri inilah, saya lebih merasa mendapatkan ilmu yang bisa diterapkan dengan pekerjaan saya. Selain itu, ada bonus bagaimana menjaga hubungan sosial kita di tempat kerja dan juga dengan masyarakat.
Padahal, jurusan yang saya ambil itu hanya satu, yakni Ilmu Komunikasi.
Kenapa itu bisa terjadi?
Karena modul pelajaran yang dikirimkan itu mencakup juga disiplin ilmu-ilmu lain, kayak manajemen, sosial, budaya, agama, dan ada banyak lagi. Di sisi lain, ini juga karena pola yang saya gunakan berbeda dengan ketika belajar waktu di SMP atau SMK. Saya menggunakan pola belajar aktif tanpa guru, yakni membaca buku.
Yap, hanya membaca buku, dan ini efeknya saya rasakan lebih efektif dibanding waktu saya dulu ketika pembelajaran diterangkan langsung oleh guru.
Hal ini bisa terjadi karena ketika kita membaca buku, otak kita dipaksa untuk aktif memahami ide, gagasan, dan pengetahuan di buku itu secara keseluruhan dan menyeluruh. Teknik membaca yang saya gunakan itu ada dua, yakni teknik vokalisasi dan pengulangan.
Teknik vokalisasi adalah membaca buku dengan menggunakan suara. Tidak disarankan untuk membaca dengan cepat, karena otak kita itu layaknya seperti organ tubuh lainnya yang perlu pengulangan dan repetisi untuk membangun jaringan ingatan dan memahami konsep, bukan flashdisk yang dalam waktu satu menit tiga puluh buku langsung bisa ditransfer.
Nah, bagian pengulangan ini saya iseng cari karena saya heran, kok orang China dan Korea itu bisa pintar-pintar? Hingga ketemulah—kalau saya tidak salah namanya—sistem Gakkau di China, yang mana para pelajarnya belajar habis-habisan.
Bahkan saking kompetitifnya, tumpukan buku yang mereka baca itu lebih tinggi dibanding badan mereka sendiri. Bandingkan dengan saya yang selama tiga tahun di sekolah menengah atas, satu buku saja tidak ada yang tamat.
Saya mencari tahu di YouTube dan AI bagaimana pola mereka belajar. Ternyata, pola belajar mereka adalah membaca satu paragraf dan tidak akan lanjut ke paragraf berikutnya sebelum paragraf itu benar-benar dipahami.
Biasanya di samping buku mereka, ada catatan dari satu paragraf yang diringkas jadi dua baris kalimat sebagai bukti bahwa paragraf itu setidaknya sudah bisa dipahami. Percayalah, dengan belajar menggunakan pola ini, kita bisa benar-benar memahami apa yang ada di buku pelajaran tersebut, bukan sekadar merasa sudah belajar saja.
Sekarang, sudah tiga tahun saya kuliah di Universitas Terbuka. Jujur, saya bersyukur diberi kesempatan kuliah di sini—kuliah dengan biaya terjangkau, tapi ilmu pengetahuannya benar-benar bisa kita rasakan manfaatnya.
Sekian dulu tulisan dan opini saya saat ini. Terima kasih sudah membaca.


Posting Komentar untuk "Kepepet: Pengalaman Kuliah Di Universitas Terbuka"
Posting Komentar